Home | Politik | Info Jamsostek | Kabar Pemilu | Kuliner | Seni Budaya Dan Pariwisata | Hukum | Ekonomi Bisnis | Olahraga | Nusantara | Iptek | Internasional | Artikel | Kuliner | Info Haji Dan TKI | Pendidikan | Produk Telkom | Surat Pembaca | Kontak
KADER POSYANDU PEDULI
Brand Manager Nestle Dancow Batita, Riza Nopalas (3 kiri) me... detil ››
KASUS TENAGA HONORER
Kepala Ombudsman Perwakilan NTB, Adhar Hakim (kanan) saat me... detil ››
NETRALITAS PILKADA NTB.
Sejumlah pengunjukrasa yang tergabung dalam "Gerakan Pemuda ... detil ››
BANTUAN PENCETAKAN SAWAH
Sejumlah petani memanen padi didaerah persawahan jalan lingk... detil ››
TOLAK RUU ORMAS
Sejumlah pengunjukrasa mendatangi kantor DPRD NTB di Mataram... detil ››
 Galeri Foto
Username

Password



Daftar | Lupa Password?
Ekonomi Bisnis

Jumat, 24 Mei 2013 09:13 - Laporan masnun

TOKOH MASYARAKAT: PEMBERLAKUAN UU MINERBA JANGAN MENYUSAHKAN

     Mataram, 23/5 (Antara) - Sejumlah tokoh masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat meminta pemerintah mempertimbangkan pemberlakuan Undang-Undang Mineral dan Batubara agar jangan sampai menyusahkan masyarakat.
     H Zainal Abidin, salah seorang tokoh masyarakat Labuan Lalar yang dihubungi dari Mataram, Kamis, mengatakan, kalau pemberlakuan UU No. 4/2009 tentang Minerba itu akan menyusahkan masyarakat sebaiknya ditinjau kembali.
     "Kalau pemberlakuan undang-undang tersebut khususnya menyangkut kewajiban perusahaan tambang membangun pengolahan dan permurnian mineral (smelter) menyebabkan perusahaan tambang termasuk PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) akan tutup, maka sebaiknya kebijakan itu ditinjau kembali," katanya.
     Ia mengatakan, kalau seandainya Newmont tidak mampu melaksanakan kewajiban tersebut dengan berbagai alasan akan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran, situasi itu akan menyusahkan masyarakat.
     Kalau ini terjadi, kata Zainal, maka dampaknya akan cukup luas, karena ribuan orang akan kehilangan pekerjaan, belum termasuk masyarakat yang selama ini mendapat manfaat dari keberadaan perusahaan tambang itu.
     "Dampak buruknya tidak hanya terkait dengan ekonomi, tetapi juga akan berpengaruh terhadap stabilitas keamanan sehubungan dengan banyaknya masyarakat yang di PHK  akibat penutupan Newmont," katanya.
     Zainal mengatakan hingga kini memang relatif sedikit masyarakat Desa Labuan Lalar yang bekerja di Newmont. Namun dengan ditutupnya perusahaan tambang itu desa yang berada relatif dekat dengan kawasan tambang ini akan terkena dampaknya.
     Namun, katanya, kalau seandainya Newmont mampu menarik minat investor untuk membangun "smelter" dan industri ikutan lainnya, seperti pabrik pupuk akan cukup menguntungkan bagi Kabupaten Sumbawa Barat karena akan menyerap tenaga kerja cukup banyak.
     H Daeng Abdul Kasim, pemuka masyarakat lainnya di Sumbawa Barat juga mengaku khawatir dampak penutupan tambang kalau Newemont tidak mampu melaksanakan kewajiban membangun smelter sebagaimana diamanatkan Undang-undang Minerba.
     "Saya membaca dari berita di koran pemberlakuan UU No. 4/2009 tentang Minerba harus itu akan berdampak terhadap penutupan tambang termasuk Newmont. Kalau ini terjadi akan berdampak buruk terhadap kehidupan masyarakat di Sumbawa Barat," katanya.
     Namun, katanya, kalau Newmont mampu melaksanakan kewajiban tersebut akan sangat menguntungkan bagi Sumbawa Barat dan NTB pada umumnya, karena akan banyak tenaga kerja yang akan terserap.    
khususnya menyangkut kewajiban perusahaan tambang membangun pengolahan dan permurnian mineral.
     "Bagi kami pemerintah hendaknya mencari solusi terbaik agar jangan sampai masyarakat yang sudah merasa nyaman bekerja di perusahaan tambang dan merasakan hidup enak kemudian kehilangan sumber kehidupan akibat penutupan Newmont," katanya.
                                                                   
                 Dampak sosial
     Pengamat Sosial Politik IAIN Mataram Dr Kadri MSi mengatakan pemberlakuan Undang-undang Mineral dan Batubara khususnya yang mengatur kewajiban perusahaan tambang untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) akan memunculkan dampak sosial cukup besar.      "Pemberlakuan UU No. 4/2009 tentang Minerba harus melalui pertimbangan secara komprehensif, tidak semata-mata pertimbangan ekonomi dan lingkungan, tetapi juga aspek sosial," katanya.
     Ia mengatakan dalam konteks perusahaan pertambangan, pertimbangan sosialnya adalah bagaimana stabilitas sosial terkait dengan kepastian dan kenyamanan kerja.
     "Ketika tambang ditutup, pasti para karyawan yang sudah merasa nyaman dengan pekerjaanya di perusahaan tambang itu, mereka akan kehilangan pekerjaan dan penghasilan," katanya.
     Menurut Kadri dampaknya bukan hanya karyawan tambang yang jumlahnya sekitar 8.900 orang, tetapi juga orang-orang yang mendapatkan manfaat ekonomi dari kehadiran perusahaan tambang itu, seperti para pengusaha lokal yang mensuplai kebutuhan Newmont.
     Selain penjualan makanan, para pengelola rumah kontrakan, tukang ojek, pelaku pariwisata termasuk para petani akan merasakan dampaknya ketika perusahaan itu tutup.
     "Persoalan dampak sosial itu kalau kita runut lagi, efeknya tidak hanya berdampak terhadap instabilitas di sekitar kawasan tambang, tetapi juga akan mempengaruhi di bidang lain, misalnya di bidang pariwisata," ujarnya.(*)
    


kirim berita


Yang Lainnya + index
Kamis, 14/02/2013
Mataram Berawan, Hujan (24-32ºC)
GUBERNUR NTB LUNCURKAN "TAMBORA MENYAPA DUNIA 1815-2015"
Mataram, 12/4 (Antara) - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH M Zainul Majdi meluncurkan program "Tambora Menyapa Dunia 1815–2015" atau peringatan dua abad meletusnya Gunung Berapi Tambora, yang puncak peringatannya diagendakan 11 April 2015. detil ››
DELAPAN WARTAWAN NTB RAIH ANUGERAH KARYA JURNALISTIK PTNNT 2013
Mataram, 30/4 (ANTARA) - Delapan wartawan media cetak dan elektronik di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), meraih Anugerah Karya Jurnalistik 2013 setelah menyisihkan 13 nominator lainya dan dinyatakan memenangkan lomba karya jurnalistik yang diselenggarakan PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) ke-3. detil ››
SABUT KELAPA DARI LIMBAH MENJADI KOMODITAS EKSPOR Oleh Masnun Masud
Mataram, 9/1 (ANTARA) - Puluhan tahun silam sabut kelapa menjadi limbah yang cukup merepotkan petani, karena pada setiap musim panen kulit bagian luar buah kelapa itu menumpuk, tidak dimanfaatkan. detil ››

Home | Politik | Info Jamsostek | Kabar Pemilu | Kuliner | Seni Budaya Dan Pariwisata | Hukum | Ekonomi Bisnis | Olahraga | Nusantara | Iptek | Internasional | Artikel | Kuliner | Info Haji Dan TKI | Pendidikan | Produk Telkom | Surat Pembaca | Kontak